Kisah Ulama Kurus Penghancur Batu
Seorang
pria bertubuh tinggi, besar dan gagah sedang berusaha memecah sebuah
batu besar. Ia mulai memukul batu itu. Sekali, dua kali, tiga kali. Batu
bergeming. Tak terlihat perubahan sama sekali, kecuali hanya terdengar
suara tumbukan antara batu dan palu besi. Pria itu kembali memukul batu
besar itu. Hingga akhirnya ia memutuskan berhenti saat pukulan keseratus
tak juga berhasil memecah batu itu.
“Boleh aku membantumu?” sapa
seorang Syaikh yang rupanya memperhatikan pria itu sejak beberapa waktu
yang lalu. Pria gagah yang kini bersandar istirahat tampak tidak
bersemangat menyerahkan palunya.
“Aku sudah memukulnya seratus
kali. Batu itu belum juga pecah,” jawabnya. Ia berpikir, jika dirinya
yang besar dan kuat saja tidak mampu, apalagi Syaikh tua yang kurus itu.
“Bismillahirrahmaanirrahiim,” ucap Syaikh memulai memukul batu.
“Dhuar,” bunyi tumbukan batu dan palu itu lumayan keras terdengar oleh Pria tersebut, meski tidak sekeras pukulannya.
“Dhuar,” pukulan kedua terdengar lebih keras.
“Dhuarrrrr,” ternyata batu itu pecah pada pukulan ketiga.
Sambil terheran-heran, pria itu menghampiri Syaikh. “Masya Allah Syaikh… Bagaimana Anda melakukannya. Anda sungguh kuat”
“Nak…
bukan begitu. Batu itu memang akan pecah pada pukulan ke-103. Sewaktu
pertama kali aku memukul, terlihat sedikit tanda-tanda retak. Karenanya
aku lebih semangat dan kupukul lebih keras. Pada pukulan kedua,
retak-retak terlihat jelas. Jadi kuhantam saja lebih keras dan
alhamdulillah batu itu pecah. Sebenarnya, jika engkau memukulnya dengan
tenagamu tadi, bisa saja batu itu pecah pada pukulan ke-102. Hanya saja,
engkau tadi kurang sabar, terburu menyerah”
Seperti memecah
batu, seringkali kita tidak sabar dalam berproses. Tidak sabar dalam
berusaha. Tidak sabar dalam menggapai kesuksesan. Kita menyerah di
langkah kesekian. Kita menyerah di hari ke sekian. Padahal jika kita
meneruskan langkah kita, jika kita meneruskan upaya kita, kita segera
bisa menuai hasilnya.
Paman Naopeon Hill pernah mengalaminya.
Waktu itu ia menjual aset-asetnya dan mengumpulkan uang dari
saudara-saudaranya untuk membeli alat tambang. Ia menemukan sebuah
tambang emas di Corolado. Setelah menggali, ternyata bijih emas yang ia
temukan hanya sedikit di permukaan. Selanjutnya hilang. Semakin dalam ia
menggali, ia tak menemukan apapun. Ia pun putus asa dan menjual tambang
berikut alatnya dengan harga murah. Oleh sang pembeli, penambangan itu
dilanjutkan. Dan ternyata, hanya satu kaki dari galian terakhir,
ditemukan berton-ton bijih emas.
Banyak orang berusaha menjadi
pengusaha. Ada yang berhasil ada yang gagal. Apa yang membedakan?
Ternyata orang-orang yang berhasil itu dulunya juga pernah mengalami
kegagalan. Ia pernah rugi. Tapi ia tidak berhenti. Dan akhirnya
berhasil. Sementara yang gagal, mereka langsung berhenti ketika
mendapati dirinya gagal. Ada yang mencoba bertahan. Bulan pertama belum
sukses, ia mencoba lagi. Bulan kedua belum balik modal, ia mencoba lagi.
Tapi saat bulan keempat ia menyerah. Padahal boleh jadi, ia akan
berhasil beberapa hari lagi.
Thomas A. Edison punya pengalaman
serupa. Konon, sebelum berhasil menemukan lampu, ia gagal hingga seribu
kali. Tapi ia tidak mau disebut gagal. Ia mengatakan, “Aku berhasil
menemukan 1000 cara yang salah untuk menyalakan sebuah lampu”
Hal
yang sama juga berlaku untuk orang-orang yang berdoa. Ada orang yang
merasa telah berdoa ratusan kali. Ia telah berdoa sekian bulan. Tetapi
doanya belum juga terkabul. Maka ia menghentikan doa itu dan
berkesimpulan: “Allah tidak mengabulkan doaku.” Padahal bisa jadi, saat
ia berdoa tiga hari lagi, Allah mengabulkan doanya.
Sungguh, kemenangan itu milik orang-orang yang sabar dan tak mengenal putus asa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar